Senin, 02 Agustus 2010

mencari perjalanan hari ramadan

Catatan Ramadhan: Mencari Makna Perjalanan

...
Ribuan langkah kau tapaki. Pelosok negeri kau sambangi.
Ribuan langkah kau tapaki. Pelosok negeri kau sambangi.
Tanpa Kenal lelah jemu. Sampaikan firman Tuhanmu.
Tanpa Kenal lelah jemu. Sampaikan firman Tuhanmu.*

*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*

Aku mencoba memejamkan mata di sela-sela deru mesin kendaraan dan hembusan angin yang kencang, serta medan jalanan yang tidak rata. Kulepas jaket tebal yang sedari tadi menyelimuti tubuhku, dan kusembunyikan seluruh wajah dengan jaketku itu untuk menghalau laju angin yang menerpa wajahku. Jam di handphone menunjukkan pukul sembilan malam, artinya masih ada dua jam perjalanan yang harus kami tempuh untuk sampai ke tempat tujuan kami, sebuah Kabupaten yang berada di perbatasan antara Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan yang lama perjalanan dari kotaku Samarinda kurang lebih tujuh jam. Sebelumnya, telah kami lalui perjalanan menggunakan bus, menyebrang dengan speedboat dan ini angkutan terakhir yang kami naiki.

Semakin aku memerintahkan mataku untuk terpejam, semakin kuat pula dorongan otak utuk melawannya. Berbagai macam pikiran bercampur baur menjadi satu. Teringat beberapa jam lalu sebelum kepergianku hari ini dimulai.


“Bu, uang jajannya ditambahin ya, soalnya lagi ngga ada dana nih buat berangkat.” Pintaku dengan wajah memelas sembari melipat pakaian yang akan ku bawa ke Tanah Grogot. “Soalnya bendaharanya lagi disana bu, lagipula keuangan memang lagi menipis nih. Berangkatnya aja kok ntar pulangnya gampang.” Lanjutku masih dengan wajah yang sama.
“Iya iya. Kalau sudah disana kan ngga bisa minta lagi sama siapa-siapa.” Jawab ibuku sembari mengeluarkan beberapa lembar uang berwarna biru. “Ini jatah baju lebaranmu ya. Ngga ada tambahan lagi.”
“Baiklah. Alhamdulillah.” Jawabku, sembari tersenyum polos. “Ngga apa-apa deh ngga pakai baju baru, yang penting bisa berangkat.” Senyumku dalam hati.

Supir angkutan Penajam-Tanah Grogot masih memacu kendaraannya dengan kencang, sementara pikiranku masih berputar-putar tak tentu kemana arahnya. Perutku yang belum terisi makanan berat semenjak buka puasa beberapa jam lalu juga mulai memberontak sementara aroma makanan yang telah disiapkan ibu juga menggoda penciumanku. Sementara untuk makan, rasanya tidak mungkin dapat menelan nasi dalam perjalanan seperti ini.

Perang batin bergemuruh dalam pikiranku saat ini.
“Apa yang kau cari dari perjalanan ini Nisa?”
“Aku ngga tahu.”
“Kamu ngga tahu? Setelah sejauh perjalanan dan pengorbananmu kamu ngga tahu apa yang kau cari?”
“Aku benar-benar ngga tahu. Perjalananku adalah pemenuhan tugas dan amanahku.”
“Cuma itu?”
“Aku… A-aku… Ak-aku… sebenarnya aku tahu apa tujuanku. Hanya saja, aku malu, terlampau malu untuk sekedar membicarakannya dalam pikiranku.”
“Memangnya apa tujuanmu….?”
“Jangan tanya. Aku tak mampu mengatakannya….. sudah jangan tanya lagi….!!”

“Ka Nisa,… Ka….” Terdengar suara Aje yang duduk di sampingku membangunkanku dari tidur singkat. “Ada telepon dari Ka Jannah.” Lanjutnya.
Aku meraih handphonenya dan berbicara dengan Ka Jan di ujung telepon sana. Suaranya yang ramai menghilangkan sedikit kantukku.
“Dah sampai di mana de?”
“Ngga tahu Ka masih hutan nih.”
“Tanya sama siapa gitu. Atau sama sopirnya kah.”
“Iya.” Jawabku sambil tersenyum. Rupanya kakakku itu mengkhawatirkan kami juga.

Setelah itu suara yang ku dengar dari ujung telepon bermacam-macam. Sepertinya anak-anak disana berebut ingin berbicara denganku. Mereka adalah adik-adikku yang masih SMA. Semangatnya dalam menyiapkan kegiatan Training Ramadhan ini membuatku haru. Rasanya semua lelah, penat dan dilemaku terbang bersama angin mendengar mereka begitu menantikan kedatanganku. Ribuan langkah aku semakin dekat dengan kalian. Tunggulah kehadiranku disana pejuang-pejuang muda.

*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*

Hari demi hari kulalui disini. Sebuah kota kecil yang suasananya akan aku rindukan suatu saat nanti jika aku pulang. Kotanya masih asri dan suasananyapun tidak begiu ramai. Pernah aku bercanda pada temanku yang asli orang Tanah Grogot kalau suasana jalan rayanya sama seperti di Samarinda jam sebelas malam saking lengan dan sepinya kendaraan. Belum seminggu saja aku sudah hapal jalan-jalannya.

Ya, sudah hampir seminggu aku berada disini. Bergantian dengan Kak Jan mengisi training. Materi keislaman, kepemimpinan, dan yang lainnya juga kami sampaikan. Karena padatnya aktivitas disini hampir saja aku terlupa untuk menelepon rumah. Teringat beberapa malam lau ketika ayah menelepon dan aku bilang bahwa sedang mengisi materi. Teringat pula ketika hari-hari sebelumnya aku menghubungi orang rumah hanya untuk meminta kiriman pulsa. Pikiranku melayang-layang kehilangan fokus. Telingaku terpecah antara mendengarkan lantunan tilawah di masjid dan mendengarkan sisi lain di hatiku yang bergemuruh. Entah karena ikatan kerinduan yang begitu kuat, tak lama kemudian aku mendapat telepon dari rumah.

“Assalamualaikum ka, kapan pulang?” Suara adikku Monik yang masih kelas dua SD mengawali pembicaraan.
“Waalaikumsalam. Besok lusa de.” Jawabku.
Di belakang sana, terdengar suara adik kecilku yang sepertinya ingin bicara denganku juga.
“Kak, Aan mau ngomong.” Kata Monik kemudian.
“Halo…. Kakak apan ulan?” Suara adik balitaku kemudian terdengar.
“Sebentar lagi de. Tungguin aja ya.”
“Bawa ole-ole ya uat Aan.”
Aku tersenyum mendengar celotehannya. Tiba-tiba aku merasa rindu direpotkan olehnya. Merasa kangen bermain ataupun memarahinya. Jikalau aku tidak pergi, mungkin rasa rindu ini tidak kuat seperti biasanya.
“Kalau ada nanti kakak carikan ya. Mana ibu?”
Dan tak lama kemudian berganti menjadi suara ibu.
“Hallo. Eh, gimana sahurnya disana?” Tanya ibuku.
“Enak kok bu. Banyak panitianya yang masak. Kakak tinggal makan aja.” Jawabku.
“Kemaren ibu sakit ngga bisa puasa.”

Lama aku terdiam. Anak mana yang tidak tergetar hatinya mendengar ibundanya yang sakit? Aku merasa bersalah tidak ada di rumah saat ini, ketika ibu membutuhkan aku, menggantikan peranya mengurus rumah. Aku ingin pulang dan berada di rumah saat ini. Mendampingi buku, menggantikannya memasak dan menjaga adik-adikku.

Ada air mata yang tertahan di ujung kelopak mata. Hanya bisa tertahan tanpa aku mampu keluarkan. Entah karena betapa kerasnya hatiku, ataukah ini pertanda rasa cintaku yang teramat dangkal kepada ibu? Ibu yang begitu mengikhlaskan anaknya menjalani aktivitas lebih dari biasanya. Tidak melarang kegiatan ini dan itu seperti kebanyakan orang tua lainnya. Memberi kebebasan sepenuhnya kepdadaku untuk bertanggung jawab terhadap jalan yang telah aku pilih. Tak pernah protes ketika agenda di kampus ataukah kegiatan di luar yang memaksaku untuk pulang senja dan mengurangi aktivitas di rumah bersama keluarga. Ibuuu… batinku berteriak memanggilmu. Andai saja aku bisa pulang saat ini, mungikn aku sudah akan melakukannya.

“Sekarang masih sakit kah bu?”
“Sudah ngga. Ini Ibu sudah puasa. Kemaren empat hari ngga puasa.”
Dan hingga detik aku mendengar suara ibu ini, aku menyadari bahwa ibu mengabarkan setelah ia sembuh. Ibu tidak ingin aku mencemaskan keadaannya.

“Bu…..” Berat kata-kataku untuk melanjutkannya. “…. Nanti kalau kakak ke Samarinda, ada yang mau di selesaikan dulu disini. Jadi, ngga bisa nginap dirumah dulu. ngga apa-apa kah bu?”
“Iya ngga apa-apa. Nanti kabari aja ya.”

Hingga telepon itu terputus pun, aku masih tidak sanggup untuk mengeluarkan air mata. Ya Allah betapa kini kusadari, semakin jauh perjalanan Kau mengajarkanku arti kerinduan. Semakin lama waktu memisahkan akan semakin membuat makna tentang arti pertemuan. Ternyata dengan jalan ini Kau menyadarkan aku arti akan sebuah cinta dari keluarga. Cinta yang sebenar-benarnya cinta. Ketika setiap hari bertemu, bertatap wajah dan bercerita tentang hari-hariku, tentang aktivitasku dan tentang cita-cita dan masa depanku, setiap hari mencium tangan dan memberikan senyuman, rasa kerinduan ini tidak pernah tumbuh sedemikian kuatnya. Kerinduan akan arto sebuah keluarga, baiti jannati. Aku rindu rumah. Rindu yang tak pernah terpikirkan olehku ketika seharian meninggalkan rumah.

Ramadhan ini, aku ingin juga menikmati sahur dan buka puasa bersama ibu, ayah, dan keempat adik-adikku. Monik mulai belajar puasa, Aan belajar bersosialisasi dengan teman sebayanya sembari menikmati buka puasa dengan anak-anak kecil di masjid. Rezza dan Puput belajar rajin shalat dan tepat waktu. Ramadhan ini kami semua mengalami proses belajar. Sementara aku disini, ratusan kilometer dari mereka, aku belajar banyak dari perjalanan. Belajar memahami sebuah makna, sebuah arti dari ikatan indahnya sebuah keluarga.

Teringat kembali dialog batinku saat aku memuli perjalanan ini. Aku malu untuk mengatakan tujuanku menempuh perjalanan ini. Kini ku azzamkan dalam hati dan dalam diri, tujuan itu akan tetap terpatri dalam perjalananku pulang nanti, dan juga perjalanan-perjalanan hidupku setelah ramadhan ini berakhir, dan menyongsong Ramadhan-Ramadhan yang akan datang. Aku berjalan mencari Ridho Ilahi.
Read More..

makna sholat witir

Hukum Melaksanakan Shalat Witir Dua Kali dalam Semalam

ARTIKEL TUNTUNAN RAMADHAN
Didasarkan pada riwayat Tirmidzi dari Qais bin Thalq bin Ali dari ayahnya dia berkata, saya mendengar Rasulullah Shallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Tidak ada dua kali witir dalam satu malam." Juga apa yang diriwayatkan oleh Bukhori dan Muslim dari Ibnu Umar bahwa Rasulullah saw bersabda,”Jadikanlah akhir shalat malam kalian dengan witir."
Al Lajnah ad Daimah didalam fatwanya No. 11271 mengatakan :
1. Barangsiapa yang tidur dalam keadaan telah melaksanakan witir kemudian dia bangun malam untuk tahajjud maka shalatlah apa yang ditetapkan terhadapnya namun tidak usah mengulangi witir, sebagai pelaksanaan terhadap larangan Nabi saw tentang tidak ada dua witir dalam satu malam.
2. Barangsiapa yang tidur dan belum melaksanakan witir namun berniat bangun di akhir malam dan dirinya memiliki kesanggupan untuk melakukannya maka hendaklah dia melaksanakan shalat witir di akhir malamnya, inilah yang paling utama karena saat itu adalah waktu turunnya Allah swt dan mengamalkan hadits ,”Jadikanlah akhir shalat malam kalian dengan witir." Hadits ini menunjukkan keutamaan dan tidak ada pertentangan dengan hadits Abu Hurairoh, ”Kekasihku memberiku tiga wasiat; puasa tiga hari pada setiap bulan, shalat dluha dan tidak tidur sebelum aku shalat witir." Karena hal ini (hadits Abu Hurairoh) adalah hak orang yang tidak memiliki kesanggupan didalam dirinya untuk bangun di akhir malam.
Terdapat riwayat bahwa Nabi saw melaksanakan shalat witir pada awal, pertengahan dan akhir malam. ”Hal ini menunjukkan bahwa malam seluruhnya adalah waktu untuk melaksanakan shalat witir. Sabda Rasulullah saw,”Barangsiapa yang khawatir tidak bisa bangun di akhir malam, hendaklah ia melakukan witir di awal malam. Dan barangsiapa yang berharap mampu bangun di akhir malam, hendaklah ia witir di akhir malam, karena shalat di akhir malam disaksikan (oleh para malaikat) dan hal itu adalah lebih afdhal (utama).
3. Barangsiapa yang tidur dan belum melaksanakan shalat witir sedangkan dirinya berniat bangun di akhir malam namun dirinya dikalahkan oleh tidurnya maka disyariatkan baginya untuk mengqodho shalat witir pada waktu dhuha dan menggenapkannya dengan satu rakaat, ”Apabila Rasulullah saw ketinggalan shalat malam karena sakit atau lainnya, maka beliau melaksanakan shalat pada siangnya sebanyak dua belas rakaat." (HR. Muslim) Wallahu A’lam..
Read more about Fiqhislam.com - Pustaka Muslim Indonesia by www.fiqhislam.com Read More..

hikma puasa

HIKMAH PUASA
DALAM TINJAUAN AGAMA DAN ILMU PENGETAHUAN
(Oleh : Fajar Adi Kusumo)
Manusia merupakan makhluk yang tertinggi derajatnya, oleh karena itu manusia diutus oleh Allah untuk menjadi khalifah di muka bumi. Sebagai makhluk yang tertinggi yang membedakan antara manusia dengan makhluk Allah yang lain adalah manusia dikaruniai oleh Allah dengan akal sedangkan makhluk Allah yang lain tidak. Dengan akalnya ini manusia berusaha sejauh mungkin untuk mengupas rahasia-rahasia alam karena alam semesta ini diciptakan oleh Allah dan tak akan lepas dari tujuannya untuk memenuhi kebutuhan makhluknya. Hal ini ditegaskan oleh Allah di dalam salah satu firman-Nya :
"Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini (langit dan bumi) dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa api neraka"
(QS. Ali Imran : 191)
Ayat inilah yang membuat orang mulai berpikir untuk mencari hikmah dan manfaat yang terkandung dalam setiap perintah maupun larangan Allah diantaranya adalah hikmah yang tersembunyi dari kewajiban menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan yang diperintahkan oleh Allah khusus kepada orang-orang yang beriman. Hal ini seperti disebutkan di dalam firman Allah yaitu :
"Hai orang-orang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa"
(QS. Al Baqarah : 183)
Sudah barang tentu hikmah puasa tersebut sangat banyak baik untuk kepentingan pribadi maupun untuk kepentingan umat (masyarakat) pada umumnya. Diantara hikmah-hikmah tersebut yang terpenting dan mampu dijangkau oleh akal pikiran manusia sampai saat ini antara lain :
a. Memelihara kesehatan jasmani (Badaniyah)
Sudah menjadi kesepakatan para ahli medis, bahwa hampir semua penyakit bersumber pada makanan dan minuman yang mempengaruhi organ-organ pencernaan di dalam perut. Maka sudah sewajarnyalah jika dengan berpuasa organ-organ pencernaan di dalam perut yang selama ini terus bekerja mencerna dan mengolah makanan untuk sementara diistirahatkan mulai dari terbit fajar hingga terbenamnya matahari selama satu bulan.
Dengan berpuasa ini maka ibarat mesin, organ-organ pencernaan tersebut diservis dan dibersihkan, sehingga setelah menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan Insya Allah kita menjadi sehat baik secara jasmani maupun secara rohani. Hal ini memang sudah disabdakan oleh Rasulullah SAW dalam salah satu haditsnya yang diriwayatkan oleh Ibnu Suny dan Abu Nu’aim yaitu :
Dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda :
"Berpuasalah maka kamu akan sehat"
(HR. Ibnu Suny dan Abu Nu’aim)
Juga dalam hadits yang lain dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda :
"Bagi tiap-tiap sesuatu itu ada pembersihnya dan pembersih badan kasar (jasad) ialah puasa"
(HR. Ibnu Majah)
Dalam penelitian ilmiah, kebenaran hadis ini terbukti antara lain :
1. Fasten Institute (Lembaga Puasa) di Jerman menggunakan puasa untuk menyembuhkan penyakit yang sudah tidak dapat diobati lagi dengan penemuan-penemuan ilmiah dibidang kedokteran. Metode ini juga dikenal dengan istilah "diet" yang berarti menahan / berpantang untuk makanan-makanan tertentu.
2. Dr. Abdul Aziz Ismail dalam bukunya yang berjudul "Al Islam wat Tibbul Hadits" menjelaskan bahwa puasa adalah obat dari bermacam-macam penyakit diantaranya kencing manis (diabetes), darah tinggi, ginjal, dsb.
3. Dr. Alexis Carel seorang dokter internasional dan pernah memperoleh penghargaan nobel dalam bidang kedokteran menegaskan bahwa dengan berpuasa dapat membersihkan pernafasan.
4. Mac Fadon seorang dokter bangsa Amerika sukses mengobati pasiennya dengan anjuran berpuasa setelah gagal menggunakan obat-obat ilmiah.
b. Membersihkan rohani dari sifat-sifat hewani menuju kepada sifat-sifat malaikat
Hal ini ditandai dengan kemampuan orang berpuasa untuk meninggalkan sifat-sifat hewani seperti makan, minum (di siang hari). Mampu menjaga panca indera dari perbuatan-perbuatan maksiat dan memusatkan pikiran dan perasaan untuk berzikir kepada Allah (Zikrullah). Hal ini merupakan manifestasi (perwujudan) dari sifat-sifat malaikat, sebab malaikat merupakan makhluk yang paling dekat dengan Allah, selalu berzikir kepada Allah, selalu bersih, dan doanya selalu diterima.
Dengan demikian maka wajarlah bagi orang yang berpuasa mendapatkan fasilitas dari Allah yaitu dipersamakan dengan malaikat. Hal ini diperkuat oleh sabda Rasulullah dalam salah satu haditsnya yang diriwayatkan oleh Turmudzi yaitu :
"Ada tiga golongan yang tidak ditolak doa mereka yaitu orang yang berpuasa sampai ia berbuka, kepala negara yang adil, dan orang yang teraniaya"(HR. Turmudzi).
Juga dalam hadits lain dari Abdullah bin ‘Amr bin ‘As, Rasulullah SAW bersabda :
"Sesungguhnya orang yang berpuasa diwaktu ia berbuka tersedia doa yang makbul"
(HR. Ibnu Majah)
Disamping itu hikmah yang terpenting dari berpuasa adalah diampuni dosanya oleh Allah SWT sehingga jiwanya menjadi bersih dan akan dimasukkan ke dalam surga oleh Allah SWT. Hal ini diperkuat dengan hadits Nabi yaitu :
Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah bersabda :
"Barang siapa berpuasa di bulan Ramadhan karena iman dan perhitungannya (mengharapkan keridla’an Allah) maka diampunilah dosa-dosanya.
(HR. Bukhari)
Juga dari hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari yaitu :
Dari Sahl r.a dari Nabi SAW beliau bersabda :
"Sesungguhnya di dalam surga ada sebuah pintu yang disebut dengan Rayyan. Pada hari kiamat orang-orang yang berpuasa akan masuk surga dari pintu itu. Tidak seorangpun masuk dari pintu itu selain mereka. (Mereka) dipanggil : Mana orang yang berpuasa ? Lalu mereka berdiri. Setelah mereka itu masuk, pintu segera dikunci, maka tidak seorangpun lagi yang dapat masuk"
(HR. Bukhari)
Dengan demikian maka dapatlah disimpulkan bahwa berpuasa membawa manfaat yang sangat besar bagi manusia baik sebagai makhluk pribadi maupun makhluk sosial. Sehingga setelah seseorang selesai menjalankan ibadah puasa di Bulan Suci Ramadhan diharapkan ia menjadi bersih dan sehat baik jasmani maupun rohani dan kembali suci bagai bayi yang baru lahir. Amiin. Read More..

hikma puasa

HIKMAH PUASA RAMADHAN
Oleh Ustaz Syed Hasan Alatas
"Wahai orang-orang yang beriman ! Diwajibkan kepada kamu puasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang yang sebelum kamu,supaya kamu menjadi orang-orang yang bertaqwa." (S.al-Baqarah:183)
PUASA menurut syariat ialah menahan diri dari segala sesuatu yang membatalkan puasa (seperti makan, minum, hubungan kelamin, dan sebagainya) semenjak terbit fajar sampai terbenamnya matahari,dengan disertai niat ibadah kepada Allah,karena mengharapkan redho-Nya dan menyiapkan diri guna meningkatkan Taqwa kepada-Nya.
RAMAHDAH bulan yang banyak mengandung Hikmah didalamnya.Alangkah gembiranya hati mereka yang beriman dengan kedatangan bulan Ramadhan. Bukan sahaja telah diarahkan menunaikan Ibadah selama sebulan penuh dengan balasan pahala yang berlipat ganda,malah dibulan Ramadhan Allah telah menurunkan kitab suci al-Quranulkarim,yang menjadi petunjuk bagi seluruh manusia dan untuk membedakan yang benar dengan yang salah.
Puasa Ramadhan akan membersihkan rohani kita dengan menanamkan perasaan kesabaran, kasih sayang, pemurah, berkata benar, ikhlas, disiplin, terthindar dari sifat tamak dan rakus, percaya pada diri sendiri, dsb.
Meskipun makanan dan minuman itu halal, kita mengawal diri kita untuk tidak makan dan minum dari semenjak fajar hingga terbenamnya matahari,karena mematuhi perintah Allah.Walaupun isteri kita sendiri, kita tidak mencampurinya diketika masa berpuasa demi mematuhi perintah Allah s.w.t.
Ayat puasa itu dimulai dengan firman Allah:"Wahai orang-orang yang beriman" dan disudahi dengan:" Mudah-mudahan kamu menjadi orang yang bertaqwa."Jadi jelaslah bagi kita puasa Ramadhan berdasarkan keimanan dan ketaqwaan.Untuk menjadi orang yang beriman dan bertaqwa kepada Allah kita diberi kesempatan selama sebulan Ramadhan,melatih diri kita,menahan hawa nafsu kita dari makan dan minum,mencampuri isteri,menahan diri dari perkataan dan perbuatan yang sia-sia,seperti berkata bohong, membuat fitnah dan tipu daya, merasa dengki dan khianat, memecah belah persatuan ummat, dan berbagai perbuatan jahat lainnya.Rasullah s.a.w.bersabda:
"Bukanlah puasa itu hanya sekedar menghentikan makan dan minum tetapi puasa itu ialah menghentikan omong-omong kosong dan kata-kata kotor." (H.R.Ibnu Khuzaimah)
Beruntunglah mereka yang dapat berpuasa selama bulan Ramadhan, karena puasa itu bukan sahaja dapat membersihkan Rohani manusia juga akan membersihkan Jasmani manusia itu sendiri, puasa sebagai alat penyembuh yang baik. Semua alat pada tubuh kita senantiasa digunakan, boleh dikatakan alat-alat itu tidak berehat selama 24 jam. Alhamdulillah dengan berpuasa kita dapat merehatkan alat pencernaan kita lebih kurang selama 12 jam setiap harinya. Oleh karena itu dengan berpuasa, organ dalam tubuh kita dapat bekerja dengan lebih teratur dan berkesan.
Perlu diingat ibadah puasa Ramadhan akan membawa faaedah bagi kesehatan rohani dan jasmani kita bila ditunaikan mengikut panduan yang telah ditetapkan, jika tidak maka hasilnya tidaklah seberapa malah mungkin ibadah puasa kita sia-sia sahaja.
Allah berfirman yang maksudnya:
"Makan dan minumlah kamu dan janganlah berlebih-lebihan sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan." (s.al-A'raf:31)
Nabi s.a.w.juga bersabda:
"Kita ini adalah kaum yang makan bila lapar, dan makan tidak kenyang."
Tubuh kita memerlukan makanan yang bergizi mengikut keperluan tubuh kita. Jika kita makan berlebih-lebihan sudah tentu ia akan membawa muzarat kepada kesehatan kita. Boleh menyebabkan badan menjadi gemuk, dengan mengakibatkan kepada sakit jantung, darah tinggi, penyakit kencing manis, dan berbagai penyakit lainnya. Oleh itu makanlah secara sederhana, terutama sekali ketika berbuka, mudah-mudahan Puasa dibulan Ramadhan akan membawa kesehatan bagi rohani dan jasmani kita. Insy Allah kita akan bertemu kembali.
Allah berfirman yang maksudnya: "Pada bulan Ramadhan diturunkan al-Quran pimpinan untuk manusia dan penjelasan keterangan dari pimpinan kebenaran itu, dan yang memisahkan antara kebenaran dan kebathilan. Barangsiapa menyaksikan (bulan) Ramadhan, hendaklah ia mengerjakan puasa.
(s.al-Baqarah:185) Read More..

makna bulan puasa

Pengertian, Definisi dan Tata Cara Puasa Ramadhan, Senin Kamis, Nazar, Sya'ban, Petengahan Bulan, Asyura, Arafah dan Syawal
Thu, 06/07/2006 - 3:59pm — godam64
Arti puasa menurut bahasa adalah menahan. Menurut syariat islam puasa adalah suatu bentuk aktifitas ibadah kepada Allah SWT dengan cara menahan diri dari makan, minum, hawa nafsu, dan hal-hal lain yang dapat membatalkan puasa sejak terbit matahari / fajar / subuh hingga matahari terbenam / maghrib dengan berniat terlebih dahulu sebelumnya.
Hari-hari yang dilarang untuk puasa, yaitu :- saat lebaran idul fitri 1 syawal dan idul adha 10 dzulhijjah- Hari tasyriq : 11, 12, dan 13 zulhijjah
Puasa memiliki fungsi dan manfaat untuk membuat kita menjadi tahan terhadap hawa nafsu, sabar, disiplin, jujur, peduli dengan fakir miskin, selalu bersyukur kepada Allah SWT dan juga untuk membuat tubuh menjadi lebih sehat.
Orang yang diperbolehkan untuk berbuka puasa sebelum waktunya adalah :- Dalam perjalanan jauh 80,640 km (wajib qodo puasa)- Sedang sakit dan tidak dapat berpuasa (wajib qodo puasa)- Sedang hamil atau menyusui (wajib qada puasa dan membayar fidyah)- Sudah tua renta atau sakit yang tidak sembuh-sembuh (wajib membayar fidyah 3/4 liter beras atau bahan makanan lain)
A. Puasa RamadhanPuasa Ramadhan hukumnya adalah wajib bagi orang yang sehat. Sedangkan bagi yang sakit atau mendapat halangan dapat membayar puasa ramadhan di lain hari selain bulan ramadan. Puasa ramadhan dilakukan selama satu bulan penuh di bulan romadhon kalender hijriah / islam. Puasa ramadhan diakhiri dengan datangnya bulan syawal di mana dirayakan dengan lebaran ied / idul fitri.
B. Puasa Senin KamisPuasa senin kamis hukumnya adalah sunah / sunat di mana tidak ada kewajiban dan paksaan untuk menjalankannya. Pelaksanaan puasa senin kamis mirip dengan puasa lainnya hanya saja dilakukannya harus pada hari kamis dan senin saja, tidak boleh di hari lain.
C. Puasa NazarUntuk puasa nazar hukumnya wajib jika sudah niat akan puasa nazar. Jika puasa nazar tidak dapat dilakukan maka dapat diganti dengan memerdekakan budak / hamba sahaya atau memberi makan / pakaian pada sepuluh orang miskin. Puasa nazar biasanya dilakukan jika ada sebabnya yang telah diniatkan sebelum sebab itu terjadi. Nazar dilakukan jika mendapatkan suatu nikmat / keberhasilan atau terbebas dari musibah / malapetaka. Puasa nazar dilakukan sebagai tanda syukur kepada Allah SWT atas ni'mat dan rizki yang telah diberikan.
D. Puasa Bulan Syaban / Nisfu Sya'banPuasa nisfu sya'ban adalah puasa yang dilakukan pada awal pertengahan di bulan syaban. Pelaksanaan puasa syaban ini mirip dengan puasa lainnya.
E. Puasa Pertengahan BulanPuasa pertengahan bulan adalah puasa yang dilakukan pada tanggal 13, 14 dan 15 setiap bulan sesuai tanggalan hijriah. Pelaksanaan puasa pertengahan bulan mirip dengan puasa lainnya.
F. Puasa AsyuraPuasa asyura adalah puasa yang dilakukan pada tanggal 10 di bulan muharam / muharram. Pelaksanaan puasa assyura mirip dengan puasa lainnya.
G. Puasa ArafahPuasa arafah adalah puasa yang dilaksanakan pada tanggal 9 di bulan zulhijah untuk orang-orang yang tidak menjalankan ibadah pergi haji. Pelaksanaan arafah mirip dengan puasa lainnya.
F. Puasa SyawalPuasa syawal dikerjakan pada 6 hari di bulan syawal. Puasa syawal boleh dilakukan pada 6 hari berturut-turut setelah lebaran idul fitri. Pelaksanaan arafah mirip dengan puasa lainnya. Read More..

makna bulan puasa

Makna Puasa di Bulan Ramadhan

Puasa, bukan sekedar kewajiban tahunan, dengan menahan lapar dan berbuka, kemudian setelah itu hampir tidak berbekas dalam jiwa ataupun dalam perilaku dalam bersosialisasi di masyarakat, namun puasa lebih kepada kewajiban yang mampu menggugah moral, akhlak, dan kepedulian kepada hal social kemasyarakatan. Puasa merupakan kewajiban yang universal, dan sebagai orang yang beragama Islam, maka perlu diyakini bahwa puasa merupakan kewajiban yang disyariatkan untuk setiap muslim/mukmin, seperti layaknya sebagai umat dari Nabi Muhammad SAW.Puasa, merupakan satu cara untuk mendidik individu dan masyarakat untuk tetap mengontrol keinginan dan kesenangan dalam dirinya walaupun diperbolehkan. Dengan berpuasa seseorang dengan sadar akan meninggalkan makan dan minum sehingga lebih dapat menahan segala nafsu dan lebih bersabar untuk menahan emosi, walaupun mungkin terasa berat melakukannya.Puasa juga merupakan kewajiban yang konkret sebagai pembina suatu kebersamaan dan kasih sayang antar sesama. Sesama orang Islam akan merasakan lapar, haus, kenyang, dan sulitnya menahan emosi dan amarah diri. Puasa dalam satu bulan, seharusnya dapat membawa dampak positif berupa rasa solidaritas dan kepedulian antar saudara, rasa kemanusiaan yang mendalam atas penderitaan sesama manusia. Perasaan sama-sama lapar, haus, kesabaran yang lebih, dan kesucian pikiran juga kata-kata, mampu membuat manusia memiliki rasa kebersamaan dalam masyarakat, dan menghasilkan cinta kasih antar sesama tanpa memandang latar belakang, warna kulit, dan agama.Keistimewaan Bulan PuasaBulan Ramadhan merupakan bulan yang istimewa, bulan penuh berkah, dan segala amal baik umat-Nya di dunia akan dibalas berlipat ganda oleh Tuhan. Semangat untuk menjalankan ibadah puasa, mampu membentuk karakter untuk memperbanyak amal kebajikan maupun amal ibadah spiritual dalam diri. Selain itu, bulan puasa merupakan bulan yang dapat digunakan untuk membuat mental menjadi tetap konsisten dan istiqamah dalam sebelas bulan berikutnya.Namun, apapun yang diperbuat di bulan puasa ini, semuanya kembali kepada kesadaran diri masing-masing, untuk memahami makna puasa, dan makna-makna lain yang akan menentukan sikap dan perilaku diri ke depan setelah berlalunya bulan puasa. Oleh karena itu, apa yang sampai di mata dan telinga Allah, adalah niat, maka hati dan pikiran kita untuk menjalankan ibadah puasa, bukan penampilan lahiriah atau materi peribadatan yang dilakukan. Read More..

Makna Puasa

Makna Puasa
Sabtu, 22 Agustus 2009 13:57:49

* Ramadhan

Abu Hurairah RA meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda : Setiap amalan anak Adam untuknya satu kebaikan dibalas dengan 10 sampai 700 kebaikan. Allah berfirman, ‘Kecuali puasa, karena dia untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya’. (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Kata puasa dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti menghindari makan, minum, dan sebagainya dengan sengaja (terutama bertalian dengan keagamaan) atau salah satu rukun Islam berupa ibadah menahan diri atau berpantang makan, minum, dan segala yang membatalkannya mulai terbit fajar sampai terbenam matahari. Puasa dalam bahasa Arab disebut shiyam atau shaum. Keduanya sama-sama kata dasar dari kata kerja sha-wa-ma, yang berarti menahan secara mutlak dan tidak bepergian dari satu tempat ke tempat lain (Asy-Syaukani, 1173 – 1255 H, dalam Fathul-Qadir).

Orang yang diam pun dapat dikatakan berpuasa, sebab ia menahan diri dari berbicara sebagaimana firman Allah SWT: Sesungguhnya aku telah bernadzar berpuasa untuk Tuhan Yang Maha Pemurah. Puasa di sini berarti tidak berbicara. Hal ini juga dipertegas dengan baris selanjutnya: Maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusia pun pada hari ini. (QS. Maryam [19] : 26).

Hal tersebut di atas dapat dipahami bahwa shiyam atau shaum merupakan qiyam bila ‘amal, yang berarti ‘beribadah tanpa bekerja’. Dikatakan demikian karena puasa itu sendiri bebas dari gerakan-gerakan, baik gerakan itu berdiri, berjalan, makan, minum dan sebagainya. Sehingga, Ibnu Duraid mengatakan bahwa segala sesuatu yang diam dan tidak bergerak, berarti sesuatu itu sedang berpuasa.

Ibnu Mandzur dalam Lisan Al-’Arab mendefinisikan puasa sebagai hal meninggalkan makan, minum, menikah, dan berbicara.

Adapun pengertian puasa menurut istilah ulama fiqh adalah menahan diri dari segala yang membatalkan sehari penuh mulai dari terbit fajar shadiq hingga terbenam matahari dengan syarat-syarat yang telah ditentukan. Dalam Surah Al-Baqarah, Allah SWT berfirman: Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. (QS. Al-Baqarah [2] : 183)

Demikianlah uraian singkat tentang makna puasa. Mudah-mudahan menjadi pengingat bahwa Ramadhan akan menjadikan kita sebagai insan kamil. Jutaan kebahagiaan dan kemenangan selalu Allah SWT tawarkan kepada kita di dalam bulan yang mulia ini. Sungguh merugi sekali bila kita tidak memanfaatkan momentum Ramadhan. (Baihaqi Nu’man) Read More..