Senin, 02 Agustus 2010

gang nero

Gang Belimbing, Gang Cinta, Juga Geng Nero
Senin, 16 Juni 2008 | 19:29 WIB
Getty Images

NAMA gang di kota kecamatan Juwana, 12 kilometer timur pusat pemerintahan kabupaten Pati, Jawa Tengah, sebenarnya Belimbing. Namun lebih dikenal dengan gang cinta (GC).Gang itu sendiri panjangnya lebih dari 500 meter. Kanan kirinya berupa tembok tebal bagian belakang perumahan penduduk, rata-rata setinggi lebih dari tiga meter, yang sebagian besar dihuni enis tertentu.

Gang itu juga bersih, sudah dicor beton, dan bisa dilalui mobil meski tak bisa untuk berpapasan. Sebagian besar tembok bercat putih, lumayan bersih dan hanya ada sedikit corat-coret di tembok. Hanya saja, sangat jarang warga setempat maupun pengguna jalan melewati gang tersebut. Mereka memilih melalui dua jalan raya yang sejajar dengan GC.

Kondisi itulah yang biasa dimanfaatkan untuk pacaran anak-anak remaja, sehingga gang itu juga dikenal sebagai Gang Cinta. Akan tetapi, tak sedikit pula remaja tanggung yang memanfaatkan gang itu untuk lokasi minum minuman keras yang aman!

Kota Kecamatan Juwana dikenal sebagai pusat pasar beras, industri kuningan, pelabuhan antarpulau, dan tempat pendaratan ikan maupun tempat penjualan ikan (TPI) terbesar nomor dua di Jateng, serta berada di jalur utama Jakarta-Semarang-Surabaya.

Di GC itulah, geng (gerombolan) neko-neko dikeroyok (Nero), pekan lalu diduga tengah memelonco salah satu calon anggota yang bernama Ls. Perpeloncoan dilakukan dengan menendang dan memukul menggunakan tangan dan kaki. Termasuk menjambak rambut. Anggota geng semuanya remaja putri. Ls sendiri adalah siswa salah satu SMA di Juwana.

Adegan itu sempat direkam dalam bentuk video oleh seorang calon anggota Geng Nero (GN) dan diserahkan kepada orangtuanya. Kemudian diinformasikan kepada wartawan cetak dan elektronik yang kemudian meledak, tersiar ke mana-mana.

Menurut Kepala Satuan Reserse Kriminal Kepolisian Resor Pati, Sulkhan dalam jumpa pers di ruang kerjanya, Senin (16/6), untuk sementara ada empat anggota Geng Nero yang diamankan, yaitu Rat, My, Tk, Rat. Dua di antaranya adalah siswi SMA Negeri Batangan, seorang siswi SMA Negeri Juwana, dan seorang siswi SMA Diponegoro Juwana.

Polres Pati masih memeriksa para tersangka penganiayaan atas LS, sejumlah saksi, sejumlah orang tua, dan mendatangkan personil dari Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Pati. .

Berpakaian ketat

Menurut Purwaningsih dan Satriyo, dua guru SMA Negeri Juwana, salah satu muridnya yang menjadi anggota GN bernama PAP atau biasa dipanggil Tk, sering ditegur dan diperingatkan agar tidak berpakaian ketat, karena merupakan salah satu larangan pihak sekolah. "Anaknya tergolong cantik, rambutnya selalu di-rebonding dan setiap berangkat sekolah diantar ibunya naik motor. Dalam kegiatan belajar dan sepak terjang di kelas biasa saja. Kami tidak menduga samasekali jika dia menjadi anggota GN dan ikut menganiaya LS," tutur Purwaningsih yang keberatan untuk diambil gambarnya.

Setelah memperoleh laporan dari Polsek Juwana dan pengakuan dari Tk sendiri, akhirnya Kepala Sekolah SMA Negeri Juwana terpaksa mengembalikan Tk kepada orang tuanya, sehingga yang bersangkutan sudah tidak mungkin bisa diterima lagi sebagai murid SMA Negeri Juwana. Meski demikian, masih terbuka kemungkinan ia melanjutkan ke sekolah lain, karena dalam proses pengembalian kepada pihak orang tua tidak disertai embel-embel tertulis dipecat.

Berdasarkan pengakuan Tk kepada Purwaningsih, anggota GN marah besar ketika salah satu anggotanya yang bernama My dicap pelacur, sehingga terjadilah aksi penganiayaan terhadap Ls. "Jika pengakuan lain, penganiayaan yang dilakukan anggota GN merupakan salah satu bentuk penerimaan anggota baru (perpeloncoan), kami tidak tahu menahu," tuturnya.

Ia menambahkan, saat ini Tk diasuh ibunya yang bernama Ny Sukarsih, ayahnya dikabarkan merantau dan sudah pisah ranjang. Ia sudah punya pacar, namun karena tersangkut kasus penganiayaan ini, sang pacar yang juga warga Juwana memilih memutuskan hubungan.

Menurut informasi yang diperoleh Purwaningsih dan Satriyo, GN sudah muncul ketika para anggotanya masih duduk di bangku sekolah menengah pertama dan sekarang mereka tersebar di berbagai SMA di berbagai daerah di Pati maupun kota lain.

Seorang pemuda yang bekerja di salah bengkel motor dan seorang remaja yang bekerja di salah satu warung makan di kota Juwana, sudah tidak asing lagi mendengar nama GN maupun GC.

Meski demikian, aparat keamanan di Juwana yang pernah diusulkan menjadi kota Administrastif bersama Cilacap ini belum pernah melakukan gebrakan untuk menindak tegas. Bahkan pihak kepolisian belum bisa membeberkan secara faktual, khususnya yang menyangkut GN. Seperti bentuk kegiatan, pimpinan, latar belakang, dan konon ada yang merasa dirugikan jika GN ini dibongkar total. "Kami tetap akan mengusut kasus ini secara tuntas," janji Kepala Polres Pati, melalui Kasatreskrim Sulkhan.

Read More..

jalur mudik

Lebaran atau Idul Fitri 2010 kembali akan diwarnai mudik masyarakat terutama dari kota ke kampung, dan yang dominan adalah dari Jawa ke luar Jawa, lebih spesifik dari ibukota Jakarta ke kota lainnya. Mudik lebaran adalah menggambarkan secara tegas adanya sentralisasi berbagai bidang terutama ekonomi. Mudik lebaran menyodorkan fakta bahwa pembangunan di Indonesia belum merata hingga ke pelosok daerah. Orang-orang mengantungkan hidupnya ke kota. Sebuah negeri primitif.

Ok lupakan sentralisasi dan negeri primitif diatas. Faktanya dari sekarang dimana bulan puasa atau Ramadhan 1431 H pun belum tiba, berbagai pihak terutama pemerintah sudah bersiap sedari dini menghadapi gelombang arus mudik 2010 ini. Diantaranya seperti pembaharuan peta mudik 2010, perbaikan jalan di jalur mudik, fasilitas pendukung seperti pos dan posko mudik hingga persiapan pengamanan dsb.

Seperti yang saya simak di Karawang, yang kemungkinan besar seperti tahun kemarin akan jadi jalur lintasan mudik Jalur Pantura dari Jakarta ke Jawa Tengah dan Jawa Timur, jalan-jalan hingga saat ini masih dalam perbaikan, bahkan beberapa ruas diperkirakan tidak akan selesai hingga arus mudik berlangsung.

Jadi, selamat melakukan persiapan mudik bagi para petugas atau bagi Anda yang mau mudik! Nanti mudah-mudahan diblog ini atau blog saya yang lain, saya akan update info seputar Read More..

hallabihalal

Ditulis oleh Rizqon Khamami
Idul Fitri memiliki arti kembali kepada kesucian, atau kembali ke asal kejadian. Idul Fitri diambil dari bahasa Arab, yaitu fithrah, berarti suci. Kelahiran seorang manusia, dalam kaca Islam, tidak dibebani dosa apapun. Kelahiran seorang anak, masih dalam pandangan Islam, diibaratkan secarik kertas putih. Kelak, orang tuanya lah yang akan mengarahkan kertas putih itu membentuk dirinya. Dan dalam kenyataannya, perjalanan hidup manusia senantiasa tidak bisa luput dari dosa. Karena itu, perlu upaya mengembalikan kembali pada kondisi sebagaimana asalnya. Itulah makna Idul Fitri.

Idul Fitri memiliki arti kembali kepada kesucian, atau kembali ke asal kejadian. Idul Fitri diambil dari bahasa Arab, yaitu fithrah, berarti suci. Kelahiran seorang manusia, dalam kaca Islam, tidak dibebani dosa apapun. Kelahiran seorang anak, masih dalam pandangan Islam, diibaratkan secarik kertas putih. Kelak, orang tuanya lah yang akan mengarahkan kertas putih itu membentuk dirinya.

Dan dalam kenyataannya, perjalanan hidup manusia senantiasa tidak bisa luput dari dosa. Karena itu, perlu upaya mengembalikan kembali pada kondisi sebagaimana asalnya. Itulah makna Idul Fitri. Dosa yang paling sering dilakukan manusia adalah kesalahan terhadap sesamanya. Seorang manusia dapat memiliki rasa permusuhan, pertikaian, dan saling menyakiti. Idul Fitri merupakan momen penting untuk saling memaafkan, baik secara individu maupun kelompok.

Budaya saling memaafkan ini lebih populer disebut halal-bihalal. Fenomena ini adalah fenomena yang terjadi di Tanah Air, dan telah menjadi tradisi di negara-negara rumpun Melayu. Ini adalah refleksi ajaran Islam yang menekankan sikap persaudaraan, persatuan, dan saling memberi kasih sayang.

Dalam pengertian yang lebih luas, halal-bihalal adalah acara maaf-memaafkan pada hari Lebaran. Keberadaan Lebaran adalah suatu pesta kemenangan umat Islam yang selama bulan Ramadhan telah berhasil melawan berbagai nafsu hewani. Dalam konteks sempit, pesta kemenangan Lebaran ini diperuntukkan bagi umat Islam yang telah berpuasa, dan mereka yang dengan dilandasi iman.

Menurut Dr. Quraish Shihab, halal-bihalal merupakan kata majemuk dari dua kata bahasa Arab halala yang diapit dengan satu kata penghubung ba (dibaca: bi) (Shihab, 1992: 317). Meskipun kata ini berasal dari bahasa Arab, sejauh yang saya ketahui, masyarakat Arab sendiri tidak akan memahami arti halal-bihalal yang merupakan hasil kreativitas bangsa Melayu. Halal-bihalal, tidak lain, adalah hasil pribumisasi ajaran Islam di tengah masyarakat Asia Tenggara. Halal-bihalal merupakan tradisi khas dan unik bangsa ini.

Kata halal memiliki dua makna. Pertama, memiliki arti 'diperkenankan'. Dalam pengertian pertama ini, kata halal adalah lawan dari kata haram. Kedua, berarti ‘baik’. Dalam pengertian kedua, kata ‘halal’ terkait dengan status kelayakan sebuah makanan. Dalam pengertian terakhir selalu dikaitkan dengan kata thayyib (baik). Akan tetapi, tidak semua yang halal selalu berarti baik. Ambil contoh, misalnya talak (Arab: Thalaq; arti: cerai), seperti ditegaskan Rasulullah SAW: Talak adalah halal, namun sangat dibenci (berarti tidak baik). Jadi, dalam hal ini, ukuran halal yang patut dijadikan pedoman, selain makna ‘diperkenankan’, adalah yang baik dan yang menyenangkan. Sebagai sebuah tradisi khas masyarakat Melayu, apakah halal-bihalal memiliki landasan teologis? Dalam Al Qur’an, (Ali 'Imron: 134-135) diperintahkan, bagi seorang Muslim yang bertakwa bila melakukan kesalahan, paling tidak harus menyadari perbuatannya lalu memohon ampun atas kesalahannya dan berjanji untuk tidak mengulanginya lagi, mampu menahan amarah dan memaafkan dan berbuat kebajikan terhadap orang lain.

Dari ayat ini, selain berisi ajakan untuk saling maaf-memaafkan, halal-bihalal juga dapat diartikan sebagai hubungan antar manusia untuk saling berinteraksi melalui aktivitas yang tidak dilarang serta mengandung sesuatu yang baik dan menyenangkan. Atau bisa dikatakan, bahwa setiap orang dituntut untuk tidak melakukan sesuatu apa pun kecuali yang baik dan menyenangkan. Lebih luas lagi, berhalal-bihalal, semestinya tidak semata-mata dengan memaafkan yang biasanya hanya melalui lisan atau kartu ucapan selamat, tetapi harus diikuti perbuatan yang baik dan menyenangkan bagi orang lain.

Dan perintah untuk saling memaafkan dan berbuat baik kepada orang lain seharusnya tidak semata-mata dilakukan saat Lebaran. Akan tetapi, harus berkelanjutan dalam kehidupan sehari-hari. Halal-bihalal yang merupakan tradisi khas rumpun bangsa tersebut merefleksikan bahwa Islam di negara-negara tersebut sejak awal adalah agama toleran, yang mengedepankan pendekatan hidup rukun dengan semua agama. Perbedaan agama bukanlah tanda untuk saling memusuhi dan mencurigai, tetapi hanyalah sebagai sarana untuk saling berlomba-lomba dalam kebajikan.

Ini sesuai dengan Firman Allah, “Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah kamu (dalam) berbuat kebaikan". (Q.S. 2:148). Titik tekan ayat di atas adalah pada berbuat kebaikan dan perilaku berorientasi nilai. Perilaku semacam ini akan mentransformasi dunia menjadi sebuah surga. Firman Allah (SWT), “Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang yang meminta-minta ; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan salat, dan menunaikan zakat ; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila dia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, benar (imannya) ; dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa". (Q.S. 2:177)

Berangkat dari makna halal-bihalal seperti tersebut di atas, pesan universal Islam untuk selalu berbuat baik, memaafkan orang lain dan saling berbagi kasih sayang hendaknya tetap menjadi warna masyarakat Muslim Indonesia dan di negara-negara rumpun Melayu lainnya. Akhirnya, Islam di wilayah ini adalah Islam rahmatan lil ‘alamiin.

Wallau a’lam.

Rizqon Khamami,

Read More..

lebaran

Makna Hakiki Lebaran*
Rabu, 1 Nopember 2006 11:32:15

Puasa Ramadan telah berakhir, nuansa perayaan Idul Fitri masih terasa di awal bulan Syawal ini. Secara harfiah, Idul Fitri bermakna hari suci, sering diartikan hari kembali sucinya jiwa-jiwa umat Muslim setelah menjalankan puasa dan berbagai rangkaian ibadah sebulan penuh selama Ramadan.

Di Indonesia, perayaan Idul Fitri memiliki kekhasan tersendiri. Hari raya Idul Fitri yang sering diistilahkan dengan “lebaran” ini tidak saja menjadi milik umat Muslim secara eksklusif, tapi telah menjadi kultur bangsa yang unik. Dua istilah yang sering kita dengar, baik secara verbal, tertulis di kartu lebaran, maupun gejala beberapa tahun belakangan ini melalui pesan pendek di telpon seluler kita adalah “minal aidin wal faizin” dan “halal bi halal”. Dua frasa bahasa Arab itu, konon tak ditemukan dalam kultur Arab sendiri. Istilah yang lebih sering dipakai dalam budaya Arab adalah ungkapan “kullu aam wa wantum bi khair” (Semoga sepanjang tahun Anda dalam keadaan baik-baik), atau “taqabbalallahu minna wa minkum” (Semoga Allah menerima amal kami dan Anda) [Qaris Tajudin; 2006].
Selain itu, masyarakat lebih sering menyebut hari raya ini dengan istilah “Lebaran”, sebuah istilah yang khas bangsa Indonesia. Bukan saja secara istilah, rangkaian tradisi menyambut hari raya di Indonesia juga unik, sebut saja misalnya tradisi mudik, mengunjungi kampung halaman dan bersilaturrahmi kepada orang tua, sanak famili, guru, serta handai taulan. Tradisi lebaran menyisakan pertanyaan besar, bagaimana tradisi yang sangat kuat ini terbentuk? Makna apa di balik pertemuan momen keislaman ini dengan tradisi kultur bangsa kita? Mungkinkan ditarik satu makna dan nilai yang lebih terbuka dan berguna bagi proses penguatan kebangsaan kita?
J.J. Rizal baru-baru ini menulis sebuah artikel yang sangat menarik tentang tradisi lebaran. Sejarawan muda ini mengungkapkan, istilah Lebaran, tidak saja berdimensi religi, tapi sekaligus sosial-budaya- politik. Istilah yang dipopulerkan oleh orang Betawi ini --sepadan dengan istilah Jawa Syawalan atau Bada— direproduksi terus dalam kultur bangsa lebih dari 80 tahun sejak waktu itu. Sejarah mencatat, sejak tahun 1927 istilah tersebut telah dipakai. Pada tahun 1929, Lebaran dijadikan momentum politik yang penting, Java Bode untuk pertama kalinya mempelopori sembahyang Idul Fitri di lapangan terbuka Konengslein (sekarang Gambir), Jakarta. Para tokoh pergerakan nasional menjadikannya ajang pertemuan dan menguatkan semangat rakyat, sekaligus menghayati penderitaannya.

Di awal masa revolusi kemerdekaan, dimana Belanda datang lagi, keadaan negeri ini sangat terancam. Sementara itu terjadi polarisasi dan perpecahan yang sangat hebat diantara bangsa Indonesia sendiri. Keadaan memprihatikan dan rakyat terjepit. “Sejumlah tokoh di bulan puasa 1946 menghubungi Soekarno. Mereka minta agar ia bersedia di hari raya yang jatuh pada Agustus itu, mengadakan perayaan ‘Lebaran’ dengan mengundang seluruh komponen revolusi yang pendirian politiknya beraneka macam, dan kedudukannya dalam masyarakat pun berbeda-beda. Biar Lebaran menjadi ajang saling memaafkan dan memaklumi serta menerima keragaman”. (J.J. Rizal; Tempo 5 Nov 2006) Dari eksplorasi yang singkat ini, bagi kultur kebangsaan kita, bisa dipastikan, bahwa istilah Lebaran memiliki makna yang kuat dan mendalam tentang kemenangan merajut pluralitas bangsa.
Read More..

lebaran

Apa kabar lebaran? Apa makna lebaran? Gw dapet ratusan sms yang isinya ucapan hariraya, entah berapa juga yang sekedar mem-forward-nya, dan berisi ucapan klise. Tapi gw lebih tertarik mengomentari sms ucapan hariraya yang datengnya langsung dari si pengirim. Dalam bahasa Inggris yang norak, atau segala macam jokes (Avant punya), puisi, ucapan yang datar (…”met hariraya bos!“), atau gimana cara yang penting ekspresif. Ada yang dikasih ucapan sori telat ke’…Paling males kalo baca sms yang isinya “taqobalallahu…”, “minal…”, dan sebagainya. Bukan apa-apa, tapi sampe sekarang gw belom ngerti apakah arti “minal aidin wal faizin” itu? Banyak yang memaknai-nya sebagai “mohon maaf lahir bathin”, padahal bukan (yakin bukan). Seperti halnya orang yang nulis Dirgahayu RI ke-60, padahal arti kata “dirgahayu” sendiri dari dirga+rahayu, sanskrit untuk “panjang umur”. Cuman karena konteks-nya ke HUT banget, maka dirgahayu jadi identik sama HUT. Begitu juga “minal aidin wal faizin“. Acara silaturahmi di kantor kalo salaman minta maaf juga pada ngomong “minal…”, instead of “mohon maap…”.

Apakah lebaran berarti saling memaafkan? Dalam perspektif asal-usul, budaya saling memaafkan itu muncul karena setelah Ramadhan, konon dosa kita diampuni oleh The One. Itu transendental. Sekarang linier-nya, habluminannaas-nya, pasca-Ramadhan ini juga mesti beres. Bahkan ada tradisi yang sebelum Ramadhan diberesin dulu urusan fellow-men-ship-nya, baru tenang ngejalanin habluminallah. Cuman karena tradisi yang berpolah, jadinya acakadut. Udah ilang esensi, hilanglah tulus-nya permohonan maaf. Di khotbah solat Ied kemaren sempet disinggung kalo sejatinya kesempatan nge-clear-in hubungan horisontal ini lebih tepat kalo kita bisa ngebuktiin diri (diantaranya) dengan kita memberi maaf terhadap orang yang membenci kita. Masih ada dua ciri lagi yang gw lupa, tapi intinya bagaimana berjiwa lebih besar dengan mendahului dan membunuh gengsi untuk menyelesaikan masalah dengan menjalin kembali tali silaturahmi. Mungkin, jika kita memahami konsep ini akan lebih terasa makna lebaran. Lebih legawa kita memaafkan, ngga cuman formalitas belaka.

Apakah lebaran berarti kemenangan? Jika Ramadan kita lalui dengan sungguh-sungguh, maka boleh kita mengklaim mendapatkan kemenangan. Siapa yang ngga bangga kalo sebulan penuh menahan diri, mendekatkan diri, dan menjadi insan yang lebih baik dari sebelumnya. Lepas dari segala janji rewards pahala yang belom kita tau pasti, tapi emang udah jelas orang yang bisa mengendalikan dirinya pasti menjadi lebih baik. Tau kapan harus ini, dan tau kapan harus itu. Itulah kemenangan yang diperoleh pasca-Ramadan. Jadi inget kata pak da’i sejuta umat: “…intinya adalah pengendalian diri“. Tapi bagi yang seperti gw, puasa cuman ngga makan-minum pagi-malem? Solat masi bolong, itikaf ngga pernah, teraweh males, tadarus ngga tau maknanya…bisa ngga kita mengklaim kemenangan saat lebaran?

Lebaran kali ini, bagi gw (lebih) bermakna: “pulang”. Khusus yang ini gw merasakan banget sulit dan berharganya perjalanan pulang saat lebaran ini (untuk) diperjuangkan. Kenapa harus pada saat lebaran? Itulah energinya, semacam energi yang menggetarkan hati semua orang bahwa pada momen itu semua harus pulang. Kembali ke asalnya, atau sekedar mengingat asalnya. Mungkin itu juga konsep ilahiyah kenapa bisa jadi kembali ke sesuatu yang fitri meski secara spiritual sama sekali ngga mewakili. Gw berbagi energi dengan jutaan pemudik, sesuatu yang baru pertama kali gw rasain sendiri. Dan begitu indahnya perjuangan itu ketika kita sampai ke kampung halaman, tempat kita tumbuh besar. Begitu menyentuh ketika kita terpaku dihadapan pusara bunda, mengingat semua masa lalu yang kita lalui sampai sekarang. What an achievement. Ruang dan waktu yang dilalui…untuk selalu diputar kembali dalam ritus yang bernama “pulang”. Mengingatkan root kita. Who we are. Inilah pesan lebaran yang nyampe ke gw di antara sekian. Ketika menangis pasca solat Ied di depan memori tentang masa kecil, di depan makam ibu gw, di depan apa yang sudah gw jalani sampe’ saat ini…

Read More..

mencari perjalanan hari ramadan

Catatan Ramadhan: Mencari Makna Perjalanan

...
Ribuan langkah kau tapaki. Pelosok negeri kau sambangi.
Ribuan langkah kau tapaki. Pelosok negeri kau sambangi.
Tanpa Kenal lelah jemu. Sampaikan firman Tuhanmu.
Tanpa Kenal lelah jemu. Sampaikan firman Tuhanmu.*

*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*

Aku mencoba memejamkan mata di sela-sela deru mesin kendaraan dan hembusan angin yang kencang, serta medan jalanan yang tidak rata. Kulepas jaket tebal yang sedari tadi menyelimuti tubuhku, dan kusembunyikan seluruh wajah dengan jaketku itu untuk menghalau laju angin yang menerpa wajahku. Jam di handphone menunjukkan pukul sembilan malam, artinya masih ada dua jam perjalanan yang harus kami tempuh untuk sampai ke tempat tujuan kami, sebuah Kabupaten yang berada di perbatasan antara Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan yang lama perjalanan dari kotaku Samarinda kurang lebih tujuh jam. Sebelumnya, telah kami lalui perjalanan menggunakan bus, menyebrang dengan speedboat dan ini angkutan terakhir yang kami naiki.

Semakin aku memerintahkan mataku untuk terpejam, semakin kuat pula dorongan otak utuk melawannya. Berbagai macam pikiran bercampur baur menjadi satu. Teringat beberapa jam lalu sebelum kepergianku hari ini dimulai.


“Bu, uang jajannya ditambahin ya, soalnya lagi ngga ada dana nih buat berangkat.” Pintaku dengan wajah memelas sembari melipat pakaian yang akan ku bawa ke Tanah Grogot. “Soalnya bendaharanya lagi disana bu, lagipula keuangan memang lagi menipis nih. Berangkatnya aja kok ntar pulangnya gampang.” Lanjutku masih dengan wajah yang sama.
“Iya iya. Kalau sudah disana kan ngga bisa minta lagi sama siapa-siapa.” Jawab ibuku sembari mengeluarkan beberapa lembar uang berwarna biru. “Ini jatah baju lebaranmu ya. Ngga ada tambahan lagi.”
“Baiklah. Alhamdulillah.” Jawabku, sembari tersenyum polos. “Ngga apa-apa deh ngga pakai baju baru, yang penting bisa berangkat.” Senyumku dalam hati.

Supir angkutan Penajam-Tanah Grogot masih memacu kendaraannya dengan kencang, sementara pikiranku masih berputar-putar tak tentu kemana arahnya. Perutku yang belum terisi makanan berat semenjak buka puasa beberapa jam lalu juga mulai memberontak sementara aroma makanan yang telah disiapkan ibu juga menggoda penciumanku. Sementara untuk makan, rasanya tidak mungkin dapat menelan nasi dalam perjalanan seperti ini.

Perang batin bergemuruh dalam pikiranku saat ini.
“Apa yang kau cari dari perjalanan ini Nisa?”
“Aku ngga tahu.”
“Kamu ngga tahu? Setelah sejauh perjalanan dan pengorbananmu kamu ngga tahu apa yang kau cari?”
“Aku benar-benar ngga tahu. Perjalananku adalah pemenuhan tugas dan amanahku.”
“Cuma itu?”
“Aku… A-aku… Ak-aku… sebenarnya aku tahu apa tujuanku. Hanya saja, aku malu, terlampau malu untuk sekedar membicarakannya dalam pikiranku.”
“Memangnya apa tujuanmu….?”
“Jangan tanya. Aku tak mampu mengatakannya….. sudah jangan tanya lagi….!!”

“Ka Nisa,… Ka….” Terdengar suara Aje yang duduk di sampingku membangunkanku dari tidur singkat. “Ada telepon dari Ka Jannah.” Lanjutnya.
Aku meraih handphonenya dan berbicara dengan Ka Jan di ujung telepon sana. Suaranya yang ramai menghilangkan sedikit kantukku.
“Dah sampai di mana de?”
“Ngga tahu Ka masih hutan nih.”
“Tanya sama siapa gitu. Atau sama sopirnya kah.”
“Iya.” Jawabku sambil tersenyum. Rupanya kakakku itu mengkhawatirkan kami juga.

Setelah itu suara yang ku dengar dari ujung telepon bermacam-macam. Sepertinya anak-anak disana berebut ingin berbicara denganku. Mereka adalah adik-adikku yang masih SMA. Semangatnya dalam menyiapkan kegiatan Training Ramadhan ini membuatku haru. Rasanya semua lelah, penat dan dilemaku terbang bersama angin mendengar mereka begitu menantikan kedatanganku. Ribuan langkah aku semakin dekat dengan kalian. Tunggulah kehadiranku disana pejuang-pejuang muda.

*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*

Hari demi hari kulalui disini. Sebuah kota kecil yang suasananya akan aku rindukan suatu saat nanti jika aku pulang. Kotanya masih asri dan suasananyapun tidak begiu ramai. Pernah aku bercanda pada temanku yang asli orang Tanah Grogot kalau suasana jalan rayanya sama seperti di Samarinda jam sebelas malam saking lengan dan sepinya kendaraan. Belum seminggu saja aku sudah hapal jalan-jalannya.

Ya, sudah hampir seminggu aku berada disini. Bergantian dengan Kak Jan mengisi training. Materi keislaman, kepemimpinan, dan yang lainnya juga kami sampaikan. Karena padatnya aktivitas disini hampir saja aku terlupa untuk menelepon rumah. Teringat beberapa malam lau ketika ayah menelepon dan aku bilang bahwa sedang mengisi materi. Teringat pula ketika hari-hari sebelumnya aku menghubungi orang rumah hanya untuk meminta kiriman pulsa. Pikiranku melayang-layang kehilangan fokus. Telingaku terpecah antara mendengarkan lantunan tilawah di masjid dan mendengarkan sisi lain di hatiku yang bergemuruh. Entah karena ikatan kerinduan yang begitu kuat, tak lama kemudian aku mendapat telepon dari rumah.

“Assalamualaikum ka, kapan pulang?” Suara adikku Monik yang masih kelas dua SD mengawali pembicaraan.
“Waalaikumsalam. Besok lusa de.” Jawabku.
Di belakang sana, terdengar suara adik kecilku yang sepertinya ingin bicara denganku juga.
“Kak, Aan mau ngomong.” Kata Monik kemudian.
“Halo…. Kakak apan ulan?” Suara adik balitaku kemudian terdengar.
“Sebentar lagi de. Tungguin aja ya.”
“Bawa ole-ole ya uat Aan.”
Aku tersenyum mendengar celotehannya. Tiba-tiba aku merasa rindu direpotkan olehnya. Merasa kangen bermain ataupun memarahinya. Jikalau aku tidak pergi, mungkin rasa rindu ini tidak kuat seperti biasanya.
“Kalau ada nanti kakak carikan ya. Mana ibu?”
Dan tak lama kemudian berganti menjadi suara ibu.
“Hallo. Eh, gimana sahurnya disana?” Tanya ibuku.
“Enak kok bu. Banyak panitianya yang masak. Kakak tinggal makan aja.” Jawabku.
“Kemaren ibu sakit ngga bisa puasa.”

Lama aku terdiam. Anak mana yang tidak tergetar hatinya mendengar ibundanya yang sakit? Aku merasa bersalah tidak ada di rumah saat ini, ketika ibu membutuhkan aku, menggantikan peranya mengurus rumah. Aku ingin pulang dan berada di rumah saat ini. Mendampingi buku, menggantikannya memasak dan menjaga adik-adikku.

Ada air mata yang tertahan di ujung kelopak mata. Hanya bisa tertahan tanpa aku mampu keluarkan. Entah karena betapa kerasnya hatiku, ataukah ini pertanda rasa cintaku yang teramat dangkal kepada ibu? Ibu yang begitu mengikhlaskan anaknya menjalani aktivitas lebih dari biasanya. Tidak melarang kegiatan ini dan itu seperti kebanyakan orang tua lainnya. Memberi kebebasan sepenuhnya kepdadaku untuk bertanggung jawab terhadap jalan yang telah aku pilih. Tak pernah protes ketika agenda di kampus ataukah kegiatan di luar yang memaksaku untuk pulang senja dan mengurangi aktivitas di rumah bersama keluarga. Ibuuu… batinku berteriak memanggilmu. Andai saja aku bisa pulang saat ini, mungikn aku sudah akan melakukannya.

“Sekarang masih sakit kah bu?”
“Sudah ngga. Ini Ibu sudah puasa. Kemaren empat hari ngga puasa.”
Dan hingga detik aku mendengar suara ibu ini, aku menyadari bahwa ibu mengabarkan setelah ia sembuh. Ibu tidak ingin aku mencemaskan keadaannya.

“Bu…..” Berat kata-kataku untuk melanjutkannya. “…. Nanti kalau kakak ke Samarinda, ada yang mau di selesaikan dulu disini. Jadi, ngga bisa nginap dirumah dulu. ngga apa-apa kah bu?”
“Iya ngga apa-apa. Nanti kabari aja ya.”

Hingga telepon itu terputus pun, aku masih tidak sanggup untuk mengeluarkan air mata. Ya Allah betapa kini kusadari, semakin jauh perjalanan Kau mengajarkanku arti kerinduan. Semakin lama waktu memisahkan akan semakin membuat makna tentang arti pertemuan. Ternyata dengan jalan ini Kau menyadarkan aku arti akan sebuah cinta dari keluarga. Cinta yang sebenar-benarnya cinta. Ketika setiap hari bertemu, bertatap wajah dan bercerita tentang hari-hariku, tentang aktivitasku dan tentang cita-cita dan masa depanku, setiap hari mencium tangan dan memberikan senyuman, rasa kerinduan ini tidak pernah tumbuh sedemikian kuatnya. Kerinduan akan arto sebuah keluarga, baiti jannati. Aku rindu rumah. Rindu yang tak pernah terpikirkan olehku ketika seharian meninggalkan rumah.

Ramadhan ini, aku ingin juga menikmati sahur dan buka puasa bersama ibu, ayah, dan keempat adik-adikku. Monik mulai belajar puasa, Aan belajar bersosialisasi dengan teman sebayanya sembari menikmati buka puasa dengan anak-anak kecil di masjid. Rezza dan Puput belajar rajin shalat dan tepat waktu. Ramadhan ini kami semua mengalami proses belajar. Sementara aku disini, ratusan kilometer dari mereka, aku belajar banyak dari perjalanan. Belajar memahami sebuah makna, sebuah arti dari ikatan indahnya sebuah keluarga.

Teringat kembali dialog batinku saat aku memuli perjalanan ini. Aku malu untuk mengatakan tujuanku menempuh perjalanan ini. Kini ku azzamkan dalam hati dan dalam diri, tujuan itu akan tetap terpatri dalam perjalananku pulang nanti, dan juga perjalanan-perjalanan hidupku setelah ramadhan ini berakhir, dan menyongsong Ramadhan-Ramadhan yang akan datang. Aku berjalan mencari Ridho Ilahi.
Read More..

makna sholat witir

Hukum Melaksanakan Shalat Witir Dua Kali dalam Semalam

ARTIKEL TUNTUNAN RAMADHAN
Didasarkan pada riwayat Tirmidzi dari Qais bin Thalq bin Ali dari ayahnya dia berkata, saya mendengar Rasulullah Shallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Tidak ada dua kali witir dalam satu malam." Juga apa yang diriwayatkan oleh Bukhori dan Muslim dari Ibnu Umar bahwa Rasulullah saw bersabda,”Jadikanlah akhir shalat malam kalian dengan witir."
Al Lajnah ad Daimah didalam fatwanya No. 11271 mengatakan :
1. Barangsiapa yang tidur dalam keadaan telah melaksanakan witir kemudian dia bangun malam untuk tahajjud maka shalatlah apa yang ditetapkan terhadapnya namun tidak usah mengulangi witir, sebagai pelaksanaan terhadap larangan Nabi saw tentang tidak ada dua witir dalam satu malam.
2. Barangsiapa yang tidur dan belum melaksanakan witir namun berniat bangun di akhir malam dan dirinya memiliki kesanggupan untuk melakukannya maka hendaklah dia melaksanakan shalat witir di akhir malamnya, inilah yang paling utama karena saat itu adalah waktu turunnya Allah swt dan mengamalkan hadits ,”Jadikanlah akhir shalat malam kalian dengan witir." Hadits ini menunjukkan keutamaan dan tidak ada pertentangan dengan hadits Abu Hurairoh, ”Kekasihku memberiku tiga wasiat; puasa tiga hari pada setiap bulan, shalat dluha dan tidak tidur sebelum aku shalat witir." Karena hal ini (hadits Abu Hurairoh) adalah hak orang yang tidak memiliki kesanggupan didalam dirinya untuk bangun di akhir malam.
Terdapat riwayat bahwa Nabi saw melaksanakan shalat witir pada awal, pertengahan dan akhir malam. ”Hal ini menunjukkan bahwa malam seluruhnya adalah waktu untuk melaksanakan shalat witir. Sabda Rasulullah saw,”Barangsiapa yang khawatir tidak bisa bangun di akhir malam, hendaklah ia melakukan witir di awal malam. Dan barangsiapa yang berharap mampu bangun di akhir malam, hendaklah ia witir di akhir malam, karena shalat di akhir malam disaksikan (oleh para malaikat) dan hal itu adalah lebih afdhal (utama).
3. Barangsiapa yang tidur dan belum melaksanakan shalat witir sedangkan dirinya berniat bangun di akhir malam namun dirinya dikalahkan oleh tidurnya maka disyariatkan baginya untuk mengqodho shalat witir pada waktu dhuha dan menggenapkannya dengan satu rakaat, ”Apabila Rasulullah saw ketinggalan shalat malam karena sakit atau lainnya, maka beliau melaksanakan shalat pada siangnya sebanyak dua belas rakaat." (HR. Muslim) Wallahu A’lam..
Read more about Fiqhislam.com - Pustaka Muslim Indonesia by www.fiqhislam.com Read More..